Pagi hari yang panas dan penuh dengan asap kendaraan membuat Fla gak tahan menunggu lama-lama macet yang panjang di ibu kota Jakarta. Walaupun sudah 6 tahun Fla tinggal di Jakarta, tetapi tetap saja gak pernah berubah sedikit pun. Yang berubah hanya jumlah penduduk yang makin bertambah setiap tahun. Sebagai anak seorang dokter yang sangat di kagumi di Jakarta, membuat Fla jarang bertemu dengan kedua orang tuanya. Papa dan mama Fla di tugaskan di Irian Jaya untuk membantu menghadapi masalah kesehatan yang cukup jelek disana. Mama Fla yang selalu mendampingi suaminya walaupun harus meninggalkan Fla sendirian di Jakarta. Sekarang hanya bik Nani yang selalu ada di samping Fla. Walau hanya seorang pembantu tapi dia sudah Fla anggap seperti kakak Fla sendiri.
Suasana di kampus gak pernah berubah dari dulu. Selalu rebut dengan anak-anak yang gak niat untuk kuliah. Mereka hanya menganggap kampus sebagai tampat untuk berkumpul dan mencari ketenaran. Mungkin karena mereka gak pernah merasakan susahnya mencari uang untuk bayar uang semesteran, maka dari itu mereka hanya menyianyiakan uang yang diberikan orang tua mereka. Walaupun setiap bulan papa Fla selalu mengirim uang ke rekening Fla. Tapi satu rupiah pun gak pernah di pakai sama Fla. Walau hanya sebagai fotografer di sebuah studio foto di Jakarta sudah cukup untuk melunasi uang semesteran.
“hai Fla, tumben loe telat. Untung aja dosennya belum datang”. Sapa Yani.
“tadi ada mecat panjang, makanya aku telat”. Jawab Fla.
“oh… aku ira ada apa. Tapi loe gak apa-apa kan”. Tanya Yani.
“ maksud loe”. Tanya Fla heran.
“muka loe pucet banget Fla, pasti karena kepanasan. Coba aja loe terima ajakan gue untuk pergi barang, pasti loe gak bakal telat dan gak harus kepanasan kaya’ gini”. Jelas Yani
Yani memang sahabat Fla sejak mereka SMA. Mereka sangat akrab bahkan banyak rahasia Fla yang gak satu orang pun tau tapi Yani malah tau.
“sory ya Yani, tadi aku ada urusan. Makanya aku gak bias pergi dengan kamu”. Jawab Fla lemas
“ ya udah gak apa-apa, tapi loe udah minum obat kan?” Tanya Yani.
“udah dong, loe tenang aja…” jawab Fla tersenyum.
Sudah setengah jam Fla dan teman-temannya nunggu dosen, ternyata gak dosennya gak dating. Satu per satu anak-ank dalam kelas keluar. Dan akhirnya hanya Fla dan Yani yang tinggal di kelas. Yani yang sedang ngerjain tugas makalahnya,sama seklai gak memperhatikan Fla yang sedang keringat dingin menahan sakit kepala. Karena gak mau melihat Yani kuatir, Fla menghapus keringatnya dan keluar sambil menahan sakit kepalanya.
“Yan, gue keluar dulu ya. Gue ada urusan sebantar”. Pamit Fla.
“oke… tapikan loe udah janji sama gue. Mau liatin foto Radit yang udah loe edit sama gue”.
Tanya Yani.
“nanti gue ke sini lagi, gue cuma sebentar kok”. Jawab Fla.
“oh… ya udah hati-hati ya”. Jawab Yani.
Fla segera bergegas kerumah sakit. 15 menit Fla menunggu hingga akhirnya dia bertemu dengan Dokter yang sudah merawatnya belakangan ini. Sudah dua bulan sejak Fla mengetahui bahwa di terserang penyakit Leukimia. Dan gak ada satu pun yang tau kalau Fla punya penyakit separah itu kecuali Yani. Yani yang saat itu gak sengaja melihat Fla di rawat di rumah sakit dan menyelidiki tantang penyakit Fla secara diam-diam. Fla yang gak pernah mau member tahu hal itu pada siapa pun bahkan orang tuanya gak pernah tau tentang hal ini.
“kamu kenapa Fla,kamu udah minum obat kan”. Tanya Dokter.
“maafin saya dok, obat itu jatuh saat saya mau minumnya tadi malam. Makanya semua obatnya kotor. Tolong saya dok, kepala saya pusing sekali”. Jelas Fla.
“ya ampun… ya sudah kamu minum ini. Terus kamu boleh baring disana”. Jawab Dokter.
“makasih dok,” jawab Fla.
Walaupun sudah kenal dekat dengan papa nya Fla, tapi dokter Roni gak berani memberi tahu tentang keadaan Fla dengan orang tuanya. Karena permintaan Fla yang memohon agar dokter Roni merahasiakan hal ini dengan siapa pun. Dokter Roni yang gak tega dengan Fla yang memohon hingga air mata Fla keluar akhirnya mengabulkan permintaannya. Fla gak mau orang tuanya sampai tau karena takut orang tuanya khawatir dengan keadaannya dan gak konsen dengan pekerjaannya.
“gimana keadaan kamu, udah mendingan”. Tanya dokter Roni.
“udah dok, makasih ya. Aku pamit dulu ya dok”. Jawab Fla.
“tunggu sebentar, ada yang mau saya bicarakan sama kamu”. Tahan dokter Roni.
“tentang apa dok?” Tanya Fla
“penyakit kamu udah semakin parah, kamu masih belum mau memberi tahu orang tua kamu tentang penyakit kamu?” tanya dokter Roni
“saya juga masih bingung dok. Benar juga kata dokter, gak seharusnya aku menyembunyikan penyakit aku dengan keluargaku sendiri. Aku masih mikirin tentang ini dok. Aku mohon sama dokter jangan beri tahu sama siapapun dulu tentang penyakit aku”. Pinta Fla
“oke kalau itu mau kamu, “ jawab dokter Roni
Sudah berapa kali dokter Roni membujuk Fla agar Fla mengizinkan dia untuk memberi tahu keadaannya dengan orang tuanya, tetapi tetap saja Fla belum siap untuk melihat reaksi orang tuanya yang sedih karena menghawatirkan dia.
Fla kembali ke kampus untuk menepati janjinya dengan Yani. Untuk melihatkan hasil editannya foto Radit yang Yani minta. Radit adalah teman SMA mereka. Yani sudah lama menyimpan perasaan dengan Radit, tetapi belum berani untuk mengungkapkannnya. Kebetulan saat itu Radit berfoto di studio tempat Fla bekerja, kemudian Fla mengambil foto tersebut untuk diberikan kepada sahabat yang sudah lama menemaninya. Walaupun Fla juga memiliki perasaan yang sama, tetapi Fla sadar bahwa dia tak akan lama lagi di dunia. Maka dari itu dia menyembunyikan perasaannya dari siapa pun.
Setelah tiba di kampus, Fla mendapat siraman amarah dari Yani yang sudah 2 jam menunggu dia di kantin. Tapi semuanya kemarahan Yani hilang bagaikan api yang terkena air setelah melihat hasil editan foto Radit yang diberikan oleh Fla. Hampir setengah jam Fla duduk hanya untuk mendengarkan sahabatnya tersebut memuji hasil editannya. Walaupun Fla tau sebenarnya bukan fotonya yang di puji, tetapi orang yang ada difoto tersebut. Tak lama kemudian tiba-tiba ada seorang dosen yang menghampiri mereka. Ternyata itu adalah salah satu dosen Fla dan Yani. Fla diminta untuk datang keruangan dosen tersebut karena ada yang mau dibicarakankan dengan Fla. Dengan berat hati Yani melepas Fla yang sebenarnya masih banyak hal yang mau Yani bicarakan dengan Fla.
Setelah sampai di ruang dosen, Fla pun duduk dengan tenang di hadapan dosen tersebut. Mereka berbicara layaknya kakak beradik. Karena kebetulan dosennya tersebut masih muda dan juga Fla adalah salah satu murid kesayangannya. Setelah hampir 10 menit berbasa basi akhirnya dosennya tersebut memulai inti pokok pembicaraan. Ternyata dosennya tersebut menawarkan beasiswa untuk melanjutkan S2 ke Jerman kepada Fla. Fla yang saat itu benar-benar terkejut mendengar tawaran tersebut sontak gak percaya dengan apa yang dia dengar berusan. Tapi entah apa yang Fla pikirkan, tiba-tiba dia meminta waktu kepada dosennya tersebut untuk berfikir. Walaupun masih ada 3 bulan untuk pendaftaran terakhir, tetapi Fla membuat dosen kesayangannya bingung dengan apa yang dia katakan. Jarang-jarang orang yang masih mau berfikir dengan tawaran tersebut. Tetapi karena permintaan Fla, dosennya pun mengabulkan permintaan Fla untuk memberinya waktu. Fla pun pamit dari ruangan tersebut.
Setalah sampai di kantin, Fla langsung ditarik Yani untuk makan siang di luar. Fla yang gak bisa menghindar sama sekali, akhirnya pasrah dengan keputusan sahabatnya tersebut.
Setelah selesai makan Fla pun pulang untuk istirahat karena malamnya Fla harus kerja sebagai seorang fotografi di sebuah studio foto di Jakarta. Walaupun Fla tinggal di rumah yang mewah, fasilitas yang lengkap, dan keuangan yang mencukupi tetapi Fla tetap hidup mandiri dan selalu rendah hati. Karena itulah banyak orang yang sayang sama dia. Dan karena kepintarannya dalam pelajaran membuat dia di kagumi oleh teman-teman dan dosen-dosen di kampusnya.
Tak terasa hari pun mulai gelap, Fla pun sudah siap untuk bekerja. Tiba-tiba bik Nani memberhentikan langkah Fla.
“non tunggu dulu sebentar,” tahan bik Nani
“ada apa bik”. Tanya Fla
“tadi nyonya telepon, beliau nanyain non. Tapi tadi non Fla lagi tiduk makanya bibik gak berani bangunin non”. Jawab bik Nani
“oh... ya udah bik, biar nanti saya yang telepon mama. Kalau gitu saya pergi dulu ya bik, soalnya saya buru-buru. Assalamualaiku”. Pamit Fla
“waalaikumsalam, hati-hati ya non”. Jawab bik Nani
Setelah sampai di tempat karja, Fla pun memarkirkan Yaris putih kesayangannya. Belum sempat Fla turun tiba-tiba kepala dia pusing dan badan dia merinding. Fla pun bergegas mencari obatnya dan memakannya . Fla memegang rambutnya dan ternyata rambut Fla banyak yang gugur. Saat itu Fla teringat kata dokter Roni , bahwa kalau penyakitnya sudah sangat parah. Tak terasa air mata Fla mengalir dengan sendirinya. Dia gak tau harus bicara apa pada orang tuanya kalau mereka sudah pulang. Dan dia membayangkan wajah mama dan papa yang telah membesarkannya menangis karena dia. Walaupun Fla gak pernah mendapat kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya tetapi Fla gak pernah mengurangi cintanya kepada orang tuanya. Dan Fla gak pernah sedikit pun membenci mereka. Dengan wajah tegar, Fla pun turun dari mobilnya.
Setelah sampai di ruangannya. Ada sosok seorang laki-laki yang datang menghampirinya. Pandangan Fla yang tidak terlalu jelas akhirnya dapat melihat dengan jelas. Ternyata Radit telah berada di depannya. Fla pun terkejut dengan kedatangan Radit waktu itu. Ternyata Radit menemui Fla untuk memberikan undangan kepada Fla. Radit mengundang Fla ke pesta ulang tahunnya di Bogor. Radit sangat berharap Fla bisa datang. Tetapi Fla punya syarat, dia akan datang kalau dia boleh membawa seseorang untuk menemaninya di sana. Radit pun setuju dengan permintaan Fla.
Setelah selesai kerja, Fla pun keluar menuju mobilnya. Tiba-tiba Radit menghalang. Radit menawarkan makan malam bersama. Fla tanpa ragu menyutujuinya tawaran Radit. Setelah sampai tempat makan, Radit dengan lancar memesan makanan kesukaan Fla tanpa harus menanya terlebih dahulu kepada Fla. Fla pun terkejut saat itu. Seumur hidup Fla gak pernah makan sama Radit, tapi kenapa dia bisa tau makanan Fla dari makanan berat sampai makanan ringan. Radit juga tau kalau Fla paling gak bisa makan makanan padas dan terlalu manis. Setelah makan Radit pun memulai pembicaraan. Ternyata Radit mengajak Fla makan, karena Radit mau curhat dengan Fla tentang cinta pertamanya. sudah setengah jam Radit menceritakan tentang cinta pertamanya dengan Fla, ternyata tidak membuat Fla sadar bahwa perempuan yang ia ceritakan adalah dia. Fla pun menanggapi cerita Radit dengan dengan lembut. Ternyata sudah 4 tahun atau tepatnya sejak mereka sama-sama duduk di bangku SMA, Radit menyembunyikan perasaan dia kepada Fla. Dan Fla sama sekali tidak menyadari itu. Setelah selasai makan, Fla pun pulang. Walaupun sama-sama bawa mobil, tapi Radit tetap mengantar Fla pulang walau dengan cara diam-diam.
Setelah sampai di kamar. Fla langsung terlelap dalam tidurnya. Karena sangat letih, Fla pun lupa untuk mematikan lampu kamarnya. Bik Nani yang kebetulan belum tidur masuk ke kamar Fla untuk mematikan lampu. Gak sengaja bik Nani menjatuhkan sisir yang ditimpa oleh sebuah buku tebal. Di sisir itu terdapat banyak rambut yang menyangkut di sisir tersebut. Bik Nani terkejut akan hal tersebut, karena yang bik Nani tau rambut Fla gak pernah rontok atau bermasalah. Sedangkan yang bik Nani lihat adalah rambut Fla yang sangat banyak hingga hampir menutupi sisir tersebut. Bik Nani kemudian mengembalikan sisir tersebut ke tempat semula dan bergegas keluar.
Di kampus Fla langsung manyampaikan undangan dari Radit tadi malam kepada Yani. Yani yang saat itu sangat senang karena mendapatkan undangan dari Radit. Padahal Fla berbohong karena Radit sama sekali tidak pernah mengundang Yani dan yang di undang Radit hanya Fla. Tapi karena permintaan Fla akhirnya Radit mengizinkan agar Fla boleh membawa teman. Fla dan Yani langsung belanja gaun untuk pesta Radit tersebut. Yani yang saat itu ingin terlihat sempurna di mata Radit saat ulang tahunnya langsung perawatan ke salon setelah belanja. Fla yang menunggu Yani sambil membaca majalah tiba-tiba mendapat telapon dari dokter Roni. Setelah menutup telepon, Fla langsung pamit sama Yani karena ada urusan. Padahal Fla ingin ke rumah sakit karena di panggil oleh dokter Roni.
Sampai di ruangan dokter Roni, Fla langsung di periksa oleh dokter Roni. Setelah selesai di periksa. Tiba-tiba Fla terkejut mendengar kabar tentang penyakitnya. Penyakit Fla sudah semakin parah, saan ini penyakitnya sudah sampai stadium 3. Dokter Roni menawarkan agar Fla mau menjalani operasi yang dulu pernah di tawarkan dengan Fla. Tetapi Fla menolak karena dia sangat takut kalau operasi itu tidak berhasil. Ternyata jawaban Fla tetap sama. Dia menolak untuk di operasi dengan alasan yang sama.
“Fla gak ada cara lain selain kamu harus menjalani operasi”. Jelas dokter Roni
“ maafin saya dok, saya tetap gak mau. Lebih baik saya pasrah saya dengan keadaan saya yang sekarang”. Jawab Fla
“ kamu kenapa sih Fla, kenapa kamu jadi patah semangat begitu. Memangnya kamu gak mau terus hidup”. Jelas dokter Roni
“ siapa yang gak mau hidup dok, saya juga mau hidup. Saya ingin mengejar cita-cita saya”. Jawab Fla
Tak terasa air mata Fla keluar, dan meredam kamarahan dari dokter Roni.
“saya mohon Fla, tolong kali ini kamu dengar kata saya. Kamu mau di operasi”. Pinta dokter Roni
“sekarang saya tanya dokter, apa yang akan dokter lakukan jika dokter di posisi saya. Apa dokter mau menjalani operasi yang belum tentu operasi itu berhasil dan dokter harus menanggung rasa sakit. Atau dokter menjalankan hidup apa adanya dan melakukan apa yang mau dokter lakukan diakhir hidup dokter”. Jelas Fla
Dokter Roni terdiam mendengar penjelasan Fla. Dan akhirnya dokter Roni mengalah dan menuruti apa keinginan Fla.
“dok, saya mau minta tolong sama dokter”. Jelas Fla
“minta tolong apa Fla?” tanya dokter Roni
“kalau nanti aku sudah gak ada, aku mohon dokter sampaikan sama mama dan papa kalau Fla sayang sekali sama mereka dan Fla sama sekali gak pernah marah sama mereka walaupun mereka gak selalu ada untuk Fla tapi buat Fla mereka adalah orang tua yang paling Fla sayang. Tolong sampaikan sama mereka. Fla mohon...” pinta Fla
Tanpa disadari air mata dokter Roni keluar mendengar perkataan Fla. Dan dokter Roni pun mengabulkan permintaan Fla untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu Fla pamit untuk pulang.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yani sudah datang ke rumah Fla. Tiba-tiba Fla keluar dengan wajah pucatnya. Yani khawatir dengan keadaan Fla. Yani menyarankan agar perjalanan mereka ke Bogor untuk memenuhi undangan Radit dibatalkan. Tetapi Fla tidak mau dan ngotot untuk tetap pergi. Akhirnya tepat jam 8 pagi Fla dan Yani berangkat. Selama diperjalanan Fla tertidur pulas didalam mobil. Tanpa di sadari Yani menangis karena sedih memikirkan nasib sahabatnya tersebut. Ternyata Yani tau bahwa penyakit Fla sudah sampai stadium 3, dan dokter Roni meminta Yani agar menjaga dan melindungi Fla dimana pun dia berada.
Setelah tiba di Bogor, Yani pun membangunkan Fla. Yani terkejut melihat wajah Fla yang pucat dan badannya yang dingin. Yani pun membangunkan Fla sambil menangis. Akhirnya Fla terbangun dan terkejut melihat sahabatnya menangis.
“kamu kenapa yan, kok nangis?” tanya Fla
“aku gak apa-apa kok, badan kamu dingin Fla. Kamu udah minum obat”. Jawab Yani
“iya. Ini aku mau minum obat”. Jelas Fla
Setelah minum obat tanpa disadari keluar darah dari hidung Fla, Yani terkejut dan sontak menghidupkan mobil untuk membawa Fla kerumah sakit. Tapi itu semua dihentikan oleh Fla.
“Fla, loe harus dibawa kerumah sakit. Loe mimisan Fla”. Jelas Yani
“gue gak apa-apa kok yan, ini cuman mimisan biasa. Loe gak usah khawatir ya”. Jawab Fla
“tapi Fla...”bantah Yani
“gue gak apa-apa yan, ”jawab Fla
Mendengar kata-kata Fla akhirnya Yani pun mengalah. Kemudian mereka turun dari mobil dan langsung mengetuk pintu sebuah vila yang cukup besar. Mereka langsung disambut oleh Radit. Radit langsung menunjukkan kamar mereka berdua untuk istirahat. Yani yang sangat letih karena membawa mobil akhirnya tertidur pulas setelah sampai di kamar. Sedangkan Fla jalan-jalan disekitar vila. Pemandangan di vila itu membuat Fla tersenyum. Seketika air mata Fla menetes saat melihat kebun teh yang sangat luas itu. Tanpa disadari Radit datang menemui Fla. Radit menemani Fla melihat keindahan di sekitar vila.
“seandainya kalau aku punya umur panjang, aku pasti bakal kesini terus”. Jelas Fla
“maksud kamu”. Sambung Radit
“gak ada apa-apa kok, lupain aja”. Jawab Fla
Hari sudah sangat sore, akhirnya mereka pulang untuk menyiapkan pesta nanti malam.
Setelah sampai dikamar tanpa sadar, Yani sudah siap dengan gaun biru mudanya. Dia terlihat cantik dengan gaun itu. Tak henti-hentinya Fla memuji sahabatnya itu.
Pesta pun dimulai, acara dimulai dengan tiup lilin dan potong kue. Entah apa yang di cari Radit dari tadi dia seperti mencari seseorang. Ternyata dia mencari Fla yang dari tadi tidak kelihatan. Radit pun meminta Yani agar menjemputnya.
Setelah sampai dikamar, ternyata Fla sedang berdandan. Yani hanya bisa menggeleng kepala melihat sahabatnya yang satu ini. Melihat Fla berdandan,yani terpesona oleh kecantika Fla. Yani pun memuji kecantikan Fla.
Setelah mereka keluar, Radit tak henti-hentinya memandangi Fla. Dengan gaun putihnya, Fla membuat pesta menjadi sunyi dengan kedatangannya. Radit pun langsung menghampiri Fla. Fla langsung mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
Ditengah-tengah acara, Fla sedikit menjauh dari kerumunan orang. Radit yang dari tadi memperhatikan Fla akhirnya menghampirinya. Ditengah perbincangannya, radit mengutarakan isi hatinya kepada Fla. Mendengar itu semua Fla pun menolaknya secara lembut. Ketika Radit tanya kenapa Fla menolak tiba-tiba keluar darah dari hidung Fla. Radit terkejut dan mengeluarkan sapu tangan dalam sakunya. Saat Radit bermaksud menghapus darah dari wajah Fla, Fla pun sadar bahwa dia sedang mimisan. Fla langsung lari kekamar. Ketika di perjalanan kekamar, Fla bertemu Yanidan Yani terkejut melihat kondisi Fla. Fla terus lari kekamar dan mengunci dirinya di kamar.
Yani terus mengetok pintu kamar, tetapi tidak juga dibuka oleh Fla. Akhirnya Radit datang dengan membawa kunci duplikat kamar tersebut. Yani melarang Radit untuk masuk karena Yani tau Fla pasti gak akan mau kalau ada yang sampai tau tentang penyakit dia. Setelah masuk kamar Yani terkejut melihat Fla terbaring lemas dikasur. Yani langsung meminta Radit untuk membantunya membawa Fla ke rumah sakit terdekat. Setelah di periksa dokter, yani langsung di panggil dokter karena Fla terus memanggil namanya. Radit yang dari tadi terus bertanya kepada Yani tentang penyakit Fla,tidak direspon sama sekali oleh Yani.
Fla meminta Yani agar memindahkannya ke rumah sakit di Jakarta sekarang juga.karena itu permintaan Fla, Yani langsung mengurus semuanya.
Setelah sampai di Jakarta Fla langsung di tangani oleh dokter Roni. Saat dalam pemeriksaan Yani menelepon orang tua Fla. Yani meminta agar mereka datang sekarang juga ke Jakarta. Karena Yani belum sanggup untuk memberi tahu keadaan Fla. Mereka pun menolak permintaan Yani. Karena kemarahan Yani yang tidak bisa dibendung, akhirnya Yani memberi tahu keadaan Fla yang sebenarnya. Tak disadari bahwa Radit juga mendengar hal itu dan terkejut dengan apa yang dikatakan Yani. Radit langsung masuk keruangan Fla dan meminta Fla untuk bangun.
Keesokan paginya, orang tua Fla pun tiba. Mereka benar-benar menyesal dengan keadaan Fla. Mereka tidak menyangka anak semata wayangnya harus mengalami penyakit ini tanpa di ketahui oleh orang tuanya sendiri. Papa Fla menanyakan kepada dokter Roni kenapa tidak pernah memberi tahu sebelumnya. Dokter Roni pun menyebutkan alasannya. Tiba-tiba Fla sadar.
“mama, papa, Yani, Radit, bik Nani, dokter. Semuanya ada disini ya”. Sapa Fla
“kenapa kamu gak pernah bilang sama mama kalau kamu sakit nak?” tanya mama Fla
“Fla cuman gak mau melihat mama dan papa sedih. Fla gak mau menjadi beban buat kalian”. Jelas Fla
“tapi Fla setidaknya papa dan mama bisa jagain kamu”. Jawab papa Fla
“aku bisa jaga diri aku sendiri kok pa, lagi pula ada Yani dan bik sum yang selalu jagain aku”. Jelas Fla
“ sekarang aku tau kenapa kamu menolak aku”. Tambah Radit
“maafin aku Radit, aku gak bermaksud menyakiti hati kamu. Aku cuman berfikir ada orang yang lebih pantas mendapatkan kamu dari pada aku”. Jawab Fla
Yani yang dari tadi menangis di pojok ruangan, akhirnya di panggil oleh Fla. Yani langsung memeluk Fla dan terus menangis. Melihat itu semua Fla langsung menghentikan tangisan Yani.
“kamu tau kan yan, aku paling gak suku melihat kamu nangis,” jelas Fla
“aku gak mau kehilangan kamu Fla,” jawab Yani
“aku gak akan meninggalkan kamu kok, sampai kapan pun aku akan selalu ada disamping kamu”.jelas Fla
Fla langsung memanggil Radit. Tangan kiri Fla memegang tangan Radit. Dan tangan kanan Fla memegang tangan Yani.
“yan kamu gak usah takut kesepian, karena Radit akan selalu nemanin kamu. Iya kan dit?” tanya Fla
“maksud kamu apa sih Fla?” jawab Radit
“tadi kan aku bilang kalau aku gak pantas dapati kamu, maka dari itu Yani yang lebih pantas dapati kamu”. Jelas Fla
“Fla kamu ngomong apa sih”. Sahut Yani
“aku mohon dit, tolong jagain sahabat aku. Aku sayang sama dia. Aku gak suka kalau samapai dia sedih”. Jelas Fla
Fla menyatukan tangan mereka berdua. Melihat itu semua Yani langsung memeluk Fla. Kemudian mama Fla juga memeluk dan menciumnya.
“ mama, papa jaga diri baik-baik ya. Fla sayang sama papa dan mama. Fla mohon mama dan papa tetap rukun sampai kapan pun”. Pinta Fla
“iya Fla... papa dan mama juga sayang sama Fla”. Jawab papa Fla
Mendengar itu semua Fla tersenyum dan Fla menghembuskan nafas terakhirnya. Semua orang diruangan itu menangis.
Setelah pemakaman selasai. Turun hujan yang sangat deras. Bagaikan langit menangis dengan kepergian seorang gadis yang ramah senyum kepada semua orang.
Sebulan setelah kepergian Fla, Yani dan Radit semakin dekat. Dangan beasiswa yang Fla berikan kepada Yani, membuat Yani giat belajar dan gak akan menyia-nyiakan pemberian Fla kepadanya. Orang tua Fla pun kembali ke aktivitas seperti biasanya. Dan Fla akan selalu tersenyum selama-lamanya.
SELESAI
by. Elma septiani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar